Posted on

Madu Situak Ni Loba, Wisata Madu Hutan di Desa Aek Natolu Jaya Toba

Minggu, 21 Maret 2021 15:22

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA- Danau Toba, tak akan habis menceritakan danau yang berada di Sumatera Utara ini.

Berbagai keindahan alam, disajikan alam untuk pemuas jiwa traveling.

Perbukitan, danau, kuliner, budaya dan lainnya bisa didapatkan ketika kita mengunjungi danau yang terbesar di Asia ini.

Tahukah traveler, di Danau Toba ini, tidak hanya menyajikan kuliner dan tempat-tempat yang menikmati alam saja.

Di kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara ini juga memiliki wisata lain yakni wisata Madu.

Ya, Madu hutan ‘Situak Ni Loba’ menjadi salah satu produk andalan di kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Tribun Medan, madu ini pemasarannya tidak hanya di tingkat lokal, namun juga sudah merambah ke berbagai Daerah di Indonesia.

Madu Situak Ni Loba ini merupakan produksi salah seorang peternak di Desa Aek Natolu Jaya, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara bernama Jupiter Lumban Julu.

Di sini, selain bisa membeli madu, kita juga mendapatkan edukasi tentang pemeliharaan lebah dan memanennya sendiri.

Jupiter mengatakan arti dari Situak Ni Loba ini dalam bahasa Indonesia adalah madunya lebah.

“Budidaya lebah madu hutan Situak Ni Loba ini cukup sederhana. Bermula dari pembuatan glodok yakni sebuah batang pohon yang dibelah menjadi dua bagian yang kemudian dijadikan sarang untuk memancing koloni lebah,” ujarnya.

Lanjut Jupiter, isi batang potong tersebut kemudian dikosongkan setelah dibelah dua.

“Kemudian kedua ujung batangnya diberi lubang kecil sebagai pintu masuk keluarnya lebah,” bebernya

Masih dikatakan Jupiter, masing-masing glodok berukuran sekitar 40-60 centimeter.

“Untuk pembuatan glodok ini kita menggunakan batang pohon kelapa. Karena aroma khas dari batang kelapa ini sangat disukai oleh lebah,” katanya.

Glodok tersebut kemudian ditempatkan di hutan sekitar desa untuk mendapatkan hasil madu yang beragam rasanya.

“Di sini kita juga menanam tumbuh-tumbuhan untuk makanan lebah. Karena rasa madu ini tergantung dari apa yang dimakan lebah itu sendiri,” katanya.

Kurang lebih dua sampai tiga pekan glodok itu dibuka untuk mengambil ratu lebah yang selanjutnya dipindahkan ke penangkar (wadah) berbentuk kubus terbuat dari bahan kayu.

Ratu lebah yang disangkarkan di dalam kotak permanen akan menarik kehadiran koloni lebah lainnya untuk membuat sarang yang pada akhirnya akan menghasilkan madu.

“Hampir satu bulan sampai dengan madu itu kita kemas ke dalam botol,” katanya.

Untuk harga, dalam satu bulan, Jupiter bisa menghasilkan lima botol madu berukuran 300 ml yang kemudian dipasarkan dengan harga Rp150 ribu.

Salah seorang pengunjung, Nur Apriliana yang dihubungi Tribun Medan mengatakan bahwa wisata madu ini selain mendapat edukasi, pengunjung juga mendapat manfaat dari madu ini sendiri.

“Di sini kita bisa ikut langsung dalam proses panennya. Yang pasti dalam proses ini kita menggunakan alat pelindung diri,” ujarnya.

Lanjutnya, di tempat tersebut, juga diberi tahu bagaimana proses jika ingin menjadi peternak lebah hingga menghasilkan.

“Jadi kita diajarkan bagaimana memulai ternak lebah, cara perawatan hingga cara memanen. Jadi di sini bisa menikmati madu langsung dari sarangnya,” ungkapnya.

Menurut informasi tambahan yang didapat, Usaha budidaya lebah madu yang sudah digeluti Jupiter sejak tahun 2017 merupakan binaan PT Toba Pulp Lestari (TPL).

“Kami mendampingi peternak lebah dalam UMKM ini supaya ekonomi petaninya meningkat dan bisa menjadi produk khas dari Toba yang mana sekarang jadi salah satu objek wisata,” kata Divisi Pengambangan Masyarakat TPL Charles Sitorus.

Hal itu guna mendorong agar produk yang dihasilkan memenuhi standar dan termasuk bisa dijual melalui daring mengikuti perkembangan zaman.

“Pasarnya Madu Situak Ni Loba ini tidak hanya lokal saja, tetapi sudah banyak dibeli dari daerah-daerah luar Sumut,” katanya.

Budidaya lebah madu memiliki peluang yang sangat menguntungkan secara ekonomis apabila dikembangkan secara maksimal, karena permintaan kebutuhan madu di wilayah Sumut khususnya kawasan Danau Toba cukup besar.

“Kita akan mengembangkan ini menjadi kawasan wisata lebah madu,” kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tob Agus Karo-Karo.

Menurutnya, budidaya lebah madu yang dilakukan Jupiter merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) sebagai kampanye nasional dalam mendorong pelaku UMKM untuk go digital.

“Kita mendukung segala bentuk kebutuhan para UMKM-UMKM kita agar terus berkembang,” pungkasnya.

(mft/tribunmedan.id)

Penulis: Muhammad Fadli Taradifa
Editor: Ayu Prasandi
Sumber: Tribun Medan

SUMBER:

https://medan.tribunnews.com/2021/03/21/madu-situak-ni-loba-wisata-madu-hutan-di-desa-aek-natolu-jaya-toba?page=all