Menjajal peluang manisnya budidaya lebah madu kelulut

Sabtu, 27 Februari 2021 / 11:35 WIB
Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Selama pandemi virus korona baru, banyak orang amat memperhatikan kesehatan. Mulai dari berolahraga secara rutin hingga menjaga asupan tubuh, seperti mengonsumsi vitamin dan madu.

Nah, ada salah satu jenis madu yang naik daun selama pandemi berlangsung. Yakni, madu yang berasal dari lebah kelulut (Trigona itama). Jenis lebah ini tidak menyengat. Ukurannya kecil seperti lalat dan banyak bersarang di pohon. Rasa madu dari lebah kelulut rada masam.

Meski harganya tidak murah, bisa mencapai setengah juta rupiah per liternya karena rasanya yang khas, madu kelulut menjadi incaran saat pandemi.

Peternak lebah madu kelulut pun kebanjiran order. Khair Riftia, salah satunya. Pemilik usaha Madu Kelulud Sahabat asal Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, ini sudah menekuni budidaya madu kelulut sejak 2018. Ia menyebutkan, sebelum pandemi, dirinya hanya mengantongi omzet Rp 5 juta per bulan.

Tapi, selama pandemi, pendapatan Khair melonjak dua kali lipat, menjadi Rp 10 juta sebulan. “Sejak jualan online, dalam sebulan bisa habis 20 liter madu kelulut,” katanya kepada KONTAN, Kamis (25/2) lalu.

Dia melego madu kelulut dengan harga Rp 40.000 sampai Rp 300.000 per botol, tergantung ukuran. Jangkauan pasarnya sampai Jambi, Palembang, Jakarta, Bogor, Makassar, dan Papua.

Saking banyaknya permintaan, kini Khair sudah tidak melayani permintaan dalam partai besar. Dan, ia hanya fokus melayani pembeli via marketplace saja.

Melihat potensi yang ada, Khair berencana memperbanyak koloni lebah kelulut dengan memecahnya. Tujuannya, supaya bisa menghasilkan lebih banyak madu kelulut lantaran ada rencana menjajal pasar luar negeri seperti ke Singapura via marketplace.

Tak mau kalah, Ibnu Kasir, peternak lebah asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, juga merasakan manisnya budidaya lebah madu kelulut. Sebelum pandemi, ia hanya meraup omzet Rp 6 juta per bulan. Kini, pendapatannya melejit dua kali lipat lebih, menjadi Rp 15 juta sebulan.

Untuk itu, Ibnu mulai mengoptimalkan lima blok budidaya lebah kelulut miliknya. Baik yang ada di sekitar pekarangan rumahnya hingga di hutan.

Maklum, selain menjual madu, Ibnu juga menjajakan lebah kelulut yang dia banderol dengan harga sekitar Rp 900.000 untuk satu koloni. Ia menargetkan, bisa menghasilkan 350 koloni lebah kelulut setahun.

Dan, Ibnu optimistis, orang makin tertarik melakukan budidaya lebah kelulut. Apalagi, cara budidayanya relatif gampang, cukup membeli koloni lebah kelulut, dan diletakkan di halaman rumah yang rindang. Selanjutnya, menanam tanaman bunga yang menjalar, yang menjadi sumber makanan lebah kelulut. Masa panennya bisa 15 hari sekali.

Selain itu, Ibnu ingin mengembangkan bisnis madunya menjadi wisata edukasi lebah kelulut.

Selanjutnya: Laba menggiurkan dari air liur lebah trigona (1)

SUMBER:

https://peluangusaha.kontan.co.id/news/menjajal-peluang-manisnya-budidaya-lebah-madu-kelulut-1