Madu Serena dan Fusco dari Kota Banjarbaru, Pemesannya Keluarga Sultan Brunei

Selasa, 23 Februari 2021 03:00

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Perlahan tangan Arif Sugianto (55) memegang tawon di rumahan tawon yang terbuat dari kotak kayu.

Tapi bagi warga Jalan SD, Griya Ulin Permai RT 4 RW 3 Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, tawon menjadi jinak.

Tawon sudah menjadi bagian hidupnya dan menjadi usahanya dari madu, sehingga apa yang dilakukan sudah terbiasa.

Karena sudah terbiasa, bapak empat anak itu, banyak juga yang memanggilnya via telepon, sebagai pawang tawon dan sembari usaha madu tawon.

Madu Serena

Arif Sugianto mulai kembangkan ternak lebah madu, Serena (lebah menyengat), diberi nama, Madu Tajir (mata) rimba mas, sejak 2017 (Perizinan Wali Kota Banjarbaru).

Bermula setelah PHK sebagai engineer di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta ke Kota Banjarbaru, guna mengembangkan madu ternak.

Di atas lahan hampir satu hektar, berpetak menjadi tiga kavling perumahan itu, ia kembangkan bisnis usaha madu tawon.

Melihat ke dalam areal yang dipagar keliling secara rapat, di pinggir-pinggir diberi tiang semen penyangga kotak lebah madu. Total ada sekitar 100 kotak lebah madu. Di tengahnya adalah kebun rambutan.

Kini, satu kotak hasilkan 250 mili madu. Sedangkan penghasilan bersihnya sekitar Rp 5 juta per bulan.

“Saya ke Banjarbaru dan yakin bisa kembangkan dengan frame ternak madu yang mudah,” cerita Arif, Senin (22/2/2021).

Di lahan ternak madu yang dia kembangkan, Arif hanya kembangkan seorang diri. Sempat ada mahasiswa praktik, namun kini sudah diterima kerja dan berhenti kerja di ternak madu.

“Untuk menjaga aman tidaknya lahan atau ada orang asing, saya ditemani angsa-angsa. Jadi, angsa ini akan berbunyi jika ada orang asing masuk dan hewan predator menyerang,” kata Arif.

Warga asal Jawa Timur itu, juga sengaja mengisi semua lahan empat kavling itu dengan pohon rambutan. “Gunanya, biar bunga rambutan dihisap oleh lebah madunya,” kata Arif.

Dijelaskan tentang tiang rumah tawon diletakkan di pinggir pagar, yaitu agar mudah perawatannya.

“Cara merawatnya, setiap hari, rumahan lebah dihindarkan dari predator. Semut, kecoak, cecak, tokek, kupu gajah atau beruang. Tiap hari, tiap malam, saya cek satu per satu. Lebahnya tidur. jika ada kecoak, ambilnya gampang,” tuturnya.

Di lahan yang sama, Arif juga gunakan sebagai tempat kursus ternak lebah madu praktis.

“Teori dan praktik dan saya sebagai mentornya. Biasanya yang minta pelajari adalah pensiunan,” cerita Arif.

Bahkan bukan hanya belajar di areal kebun ternak madu saja, dia juga sering diundang oleh pimpinan pondok pesantren untuk mengajar ekstrakurikuler tentang ternak lebah madu praktis.

Tentang pemasaran, menurut Arif, mudah. Karena sudah ada grup WhatsApp dan karena langsung asli dari alam sehingga cepat laku terjual.

“Apalagi ketika Pandemi Covid-19, banyak orang memerlukan madu untuk menaikkan imunitas tubuh. Jadi, makin banyak yang pesan. Alhamdulillah, ada saja pesanan setiap bulannya,” kata dia.

Madu Fusco

Madu yang diproduksi di lokasi ternak madu, Arif Sugianto, ada pula jenis fusco. Dihasilkan dari tawon terkecil, harga madunya lebih mahal. Manis seperti memakan permen

Arif kembangkan tempat madu fusco dengan bambu supaya mempermudah panennya.

“Alhamdulillah, untuk madu fusco ini sudah ada langganan dari keluarga Sultan Brunai. Harga per liter memang mahal, sampai Rp 1,5 juta. Karena, panenya sulit. Perlu tunggu waktu enam bulan sekali,” tandas Arif.

(banjarmasinpost.co.id /Nurholis Huda).

SUMBER:

https://banjarmasin.tribunnews.com/2021/02/23/madu-serena-dan-fusco-dari-kota-banjarbaru-pemesannya-keluarga-sultan-brunei