Bisnis Lebah Trigona Penghasil Madu Teran Mulai Populer, Begini Cara Budidayanya

Selasa, 9 Maret 2021 15:34

BANGKAPOS.COM , BANGKA – Lebah Trigona Itama atau dikenal pada sebutan Madu Teran oleh penduduk lokal di Pulau Belitung Timur (Beltim) saat ini mulai banyak dibudidayakan.

Proses budidaya lebah itu satu di antaranya yakni oleh MateBee Farm yang berlokasi di Dusun Parit Garam, Desa Selinsing Belitung Timur.

Selain memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, madu asal lebah Teran memiliki rasa yang unik yakni manis asam dan madunya dipercaya memiliki antioksidan lebih tinggi dibanding madu lain.

Beekepper sebutan untuk peternak madu, sudah memiliki komunitas sendiri di Belitung Timur.

Komunitas Beekepper, Muklis Ilham dan Edo Yulanda Pemilik MateBee Farm mengaku awalnya tertarik ternak madu karena melihat adanya peluang ekonomi yang menjanjikan.

“Sebenarnya sudah ada yang budidaya Madu Teran ini lebih dulu dari kami. Awal tertarik kami coba dari lima kotak koloni yang didapatkan dari warga yang biasanya cari kayu dan ada juga yang memang lebah ini bersarang di kayu pohon milik warga,” ujar Muklis kepada Bangkapos.com, Senin (8/3/2021).

Satu koloni Lebah Teran dibeli mereka seharga Rp150.000. Mereka juga harus menyiapkan kotak lengkap berikut plastik, karpet peneduh dan keramik untuk tutup dari sarang koloni lebah.’

Kotak tersebut nantinya untuk lebah membuat kantong-kantong madu serta memudahkan dalam proses panen madu.

Bagi Beekepper, satu koloni membutuhkan kalkulasi biaya sekitar Rp200.000, untuk siap berproduksi.

Memilih lokasi budidaya lebah juga harus memperhatikan vegetasi lingkungannya, tidak hanya merawat lebah saja, namun sumber makanan lebah juga harus diperhatikan.

“Ada juga koloni lebah yang kabur saat baru beli, mungkin karena koloninya masih sedikit terus tidak cocok dengan lingkungannya karena makanannya kurang. Kami belajar autodidak, kami coba pindah ke lingkungan yang lebih banyak tanamannya, Alhamdulillah ternyata cocok, produksi madunya pun cukup lumayan,” ujarnya.

Saat ini mereka memiliki sekitar 120 koloni Lebah Trigona, dan 40 koloni sudah rutin memproduksi madu.

Muklis mengaku dalam satu koloni tidak bisa diprediksi maksimal lebah menghasilkan madu, hal itu dipengaruhi kondisi alam, misalnya saat musim hujan produksi madu dipastikan turun.

“Mungkin kalau minimal untuk lebah yang sudah produksi madu, satu kotak setengah liter madu, itu minimal. Misal termasuk pada musim penghujan, karena kalau musim penghujan lebah juga tidak keluar dari sarangnya. Kalau maksimal vegetasi mendukung musim panas satu kotak bisa sampai satu liter, tapi kembali lagi cadangan makanan mereka di lingkungannya cukup tidaknya,” ujar Muklis.

Setiap bulan panen mereka bisa menghasilkan Madu Trigona sekitar 40 liter hingga 50 liter madu murni.

Dua tahun lebih menekuni budidaya Lebah Trigona, bagi mereka proses yang dilaluinya tidak lah selalu mulus.

Bahkan pemasaran madu tersendat pun sudah pernah dirasakan mereka, per liter Madu Teran dibandrol harga Rp300.000.

Hingga akhirnya peluang pemasaran mulai terbuka ketika mereka bergabung di Komunitas Raje Teran Belitung.

Saat ditanya apakah ada kendala dalam budidaya Madu Teran, Edo rekan Muklis mengatakan kendala hama adalah adalah reptil pemakan serangga seperti cicak dan katak.

Selain itu bila lingkungan tidak dijaga secara baik bahkan kera pun ada yang mengganggu sarang lebah.

Sementara itu, koloni Lebah Trigona di Belitung Timur, tak hanya didapatkan dari koloni lebah hutan saja.

Untuk memperbanyak koloni para beekepper atau peternak lebah kini sudah bisa memperbanyak koloni melalui beberapa teknik.

Mate Bee belajar secara autodidak dan hasil sharing bersama komunitasnya sudah berhasil memperbanyak koloni madu miliknya.

“Awalnya kami mulai pelihara lima koloni, seiring jalan terus bertambah hingga 40 koloni lebah. Nah dari 40 koloni itu kami mulai coba perbanyak lagi dengan cara istilahnya pecah koloni,” ujar Muklis kepada Bangkapos.com, Senin (8/3/2021).

Menurutnya ada beberapa teknik untuk melakukan pecah koloni, yakni melalui cara memindah calon ratu lebah ke kotak lain, selain itu ada metode sistem perangkap.

Namun juga harus dipastikan bahwa koloni lebah yang dipecah harus benar-benar kuat atau sudah memiliki calon ratu lebah yang baru.

Menurutnya lebah yang siap untuk diperbanyak terlihat pada warna telur yang sudah kuning keemasan.

Sistem pecah koloni, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan sejak awal pecah koloni agar koloni lebah stabil.

Setelah koloni diperkirakan kuat barulah lebah tersebut diberkalukan sama dengan sarang madu lainnya. (Bangkapos.com/Suharli)

Penulis: Suharli
Editor: Fery Laskari

SUMBER:

https://bangka.tribunnews.com/2021/03/09/bisnis-lebah-trigona-penghasil-madu-teran-mulai-populer-begini-cara-budi-dayanya?page=all